21_06

Ujian Akhir SPPM Semester Genap Tahun Ajaran 2020/2021

 1.  Activity Based Management pada sebuah perusahaan sebelum dan setelah pandemi COVID-19 di sekitar tempat tinggal.

  • Jenis Usaha: Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) “AHANK TOPPOKI Ciomas”.
  • Alamat: Jl. Raya Ciomas (Seberang Alfamidi), Ciomas Rahayu, Ciomas, Bogor.
  • Activity Based Management sebelum COVID-19:

  1. Pelanggan: Pelanggan usaha ini sebelumnya hanya masyarakat yang sering mendatangi kedai saja.
  2. Produk/Jasa: Penjual sebelumnya menjual mi ayam dan bakso.
  3. Aktivitas: Penjual hanya melakukan pelayanan secara offline atau masyarakat yang mendatangi kedai saja.
  4. Sumber Daya: Penjual hanya mempromosikan usahanya di sekitar daerah tempat usahanya saja, sehingga cakupan pelanggan sedikit.

  • Activity Based Management sesudah COVID-19:

  1.     Pelanggan: Pelanggan usaha ini adalah masyarakat yang mengunjungi kedai secara offline dan masyarakat yang memesan secara online.
  2.   Produk/Jasa: Penjual saat ini beralih usaha dengan menjual makanan khas korea, seperti tteokpokki, ramyeon, dan odeng. Penjual beralih usaha ke makanan khas Korea, karena makanan Korea sedang banyak diminati oleh kalangan remaja dan dewasa saat ini, khususnya di daerah sekitar tempat usaha.
  3.    Aktivitas: Penjual melakukan pelayanan secara offline dan online. Offline dengan masyarakat yang mendatangi kedai secara langsung, online dengan masyarakat yang memesan online via aplikasi pengantar makanan dan minuman.
  4.   Sumber Daya: Penjual saat ini bekerja sama dengan platform makanan dan minuman online untuk mempromosikan usahanya, sehingga cakupan pelanggan menjadi luas, tidak hanya secara offline saja.

 

2.  Tahap Proses Penyusunan Program pada Program yang akan Dibuat:

·   Penjabaran Inisiatif Strategik ke Dalam Program

  Nama program yang akan saya buat adalah MIU FEST (Millenial Universe Festival). Program ini memiliki inisiatif strategik memperkenalkan aneka ragam budaya Indonesia kepada masyarakat, dengan dikemas secara millennial. Sasaran customer dari program ini adalah dewasa, remaja, dan anak-anak. Diharapkan dengan adanya program ini, masyarakat khususnya kaum millennial dapat mengenal berbagai macam budaya Indonesia, seperti lagu daerah, tarian tradisional, atau alat musik tradisional dan ikut serta dalam memperkenalkan budaya Indonesia ke kancah Internasional. Program ini dikemas se-millenial mungkin, sehingga terlihat fresh, tetapi tidak menghilangkan ciri khas dari budaya Indonesia itu sendiri. Program ini nantinya akan melibatkan penyanyi, dancer, dan musisi yang memiliki millennial vibes untuk mendukung jalannya acara. Selama ini, banyak dari masyarakat Indonesia memandang sebelah mata tentang budaya dan cenderung beranggapan bahwa belajar budaya itu membosankan. Lewat program ini, budaya Indonesia akan dikemas secara millennial dan fresh, sehingga para penonton tidak akan bosan dan semakin penasaran dengan budaya-budaya yang ditampilkan. Gambaran kegiatan yang akan dilaksanakan di program ini adalah aransemen lagu-lagu tradisional dengan millennial vibes dan drama musikal yang dipadukan dengan tari tradisional dan diiringi oleh alat musik tradisional. Program ini membawa banyak manfaat yang positif kepada seluruh masyarakat. Selain itu, masyarakat dapat mengenal dan belajar lebih dalam lagi mengenai budaya Indonesia, bahkan dengan kreativitas yang tinggi dapat membawa budaya Indonesia ke panggung internasional dan mengharumkan nama bangsa.

·      Penyusunan Informasi Keuangan Proyeksian

Proyeksi keuangan yang dibutuhkan dalam program ini kurang lebih sekitar Rp. 68.000.000 Dengan rincian: sewa tempat dan tata panggung sekitar Rp. 9.000.000; pengisi acara sekitar Rp. 25.000.000; sewa alat musik tradisional sekitar Rp. 4.000.000; konsumsi sekitar Rp. 18.000.000; dan biaya untuk staf sekitar Rp. 12.000.000. Program ini membuka ticketing secara online (Presale 1 dan Presale 2) dan offline (on the spot) dengan rincian: Presale 1  seharga Rp. 120.000, Presale 2 seharga Rp. 150.000, dan On the Spot seharga Rp. 200.000, dengan kapasitas pembeli sekitar 300-500 orang.

·      Review dan Persetujuan Program

Seluruh crew akan meninjau ulang proyeksi keuangan dan rencana program, apakah terdapat kelebihan biaya, kekurangan biaya, atau ketidakselarasan antara keuangan dengan program. Jika tidak terdapat masalah, maka program akan disetujui dan ditindaklanjuti.

 

3.  Contoh Cascading Program di Lingkungan Pemerintah:

Sasaran: Meningkatnya nilai tambah hasil dan daya saing produk pertanian (tanaman, pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan).

Indikator Kinerja: Pertumbuhan sub-sektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB.

SKPD : Dinas Pertanian

- Sasaran :  Meningkatnya produksi pertanian

- Indikator Kinerja :  Jumlah Produksi Padi

                                  Indeks Pertanaman Padi

              - Program :  Peningkatan produksi pertanian

                                  Pengembangan agribisnis

             Bidang Produksi Hortikultura

            - Sasaran : Peningkatan penerapan teknologi budidaya yang baik dan ramah lingkungan

            - Indikator Kinerja : Luas kebun/lahan usaha yang teregistrasi GAP

                                             Jumlah kelompok tani yang mengikuti SLGAP

             Sie. Buah-Buahan

            - Sasaran :  Peningkatan produksi buah-buahan

            - Indikator Kinerja : Luas lahan kawasan tanaman buah-buahan

                                             Jumlah petani yang mendapat pelatihan GAP

             Jabatan Pelaksana Analis Produksi Hortikultura

            - Sasaran :  Tersedianya data hasil analisa produk hortikultura

            - Indikator Kinerja : Jumlah data analisa produk hortikultura


4. Resonansi dapat dirasakan oleh seluruh elemen perusahaan melalui proses cascading. Misalnya, dari manajemen tingkat atas membuat rencana strategi untuk visi perusahaan. Visi perusahaan ini nantinya akan diberitahukan ke seluruh manajemen tingkat menengah dan tingkat bawah untuk dikembangkan lagi sesuai dengan bidang masing-masing demi tercapainya visi perusahaan, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan jangka waktu yang panjang. Proses cascading juga dapat diimplementasikan pada kelembagaan mahasiswa di FEB UNPAK. Ketua kelembagaan mahasiswa akan merumuskan dan menetapkan visi dan misi lembaga kemahasiswaan yang nantinya visi dan misi tersebut akan diberitahukan kepada seluruh struktural organisasi, seperti sekretaris, bendahara, dan divisi lainnya. Setiap ketua dari seluruh divisi akan mengembangkan strategi masing-masing sesuai bidangnya, yang hasil akhirnya adalah untuk mencapai visi dan misi kelembagaan mahasiswa. Hal inilah yang disebut dengan proses cascading. Dengan menetapkan strategi di bidang masing-masing, jika semua bidang selaras memiliki tujuan yang sama, maka tujuan perusahaan akan tercapai bersama-sama.


5. Sistem Perencanaan Strategik dengan Rerangka Balanced Scorecard:
  • Perspektif Pelanggan: Menyediakan semua jenis kebutuhan masyarakat, seperti kebutuhan primer, sekunder, atau tersier; Memberikan kemudahan bertransaksi bagi pelanggan secara online, sehingga pelanggan dapat memesan kapan saja dan di mana saja; Memberikan discount dan free shipping setiap bulan pada tanggal-tanggal tertentu; Menyediakan fitur ‘ajukan pengembalian’, jika pesanan tidak sesuai.
  • Perspektif Finansial: Menarik investor, baik perorangan maupun perusahaan, untuk berinvestasi; Mendaftarkan saham dan memperdagangkannya di BEI dalam sektor perusahaan manufaktur.
  • Perspektif Bisnis Internal: Menyediakan berbagai macam produk yang sejenis; Menyediakan metode pembayaran secara online, seperti transfer lewat bank atau membayar di minimarket terdekat dan offline, seperti bayar ketika pesanan sudah sampai (cash on delivery).
  • Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan: Staf customer service selalu stand-by untuk menerima keluhan, kritik, dan saran dari pelanggan; Merekrut SDM yang profesional; Bekerja sama dengan perusahaan/wirausaha dalam berbagai jenis sektor.

    6. Analisis SWOT:


Strengths (S) 

1. Disiplin.

2. Dapat bekerja sama dengan tim.

3. Mampu mengoperasikan Microsoft Office.

4. Teliti dan rapi dalam mengerjakan sesuatu.

Weaknesses (W) 

1. Perfeksionis yang condong ke kritis.

2. Membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap lingkungan baru.

Opportunities (O)

1. Berpikiran terbu-ka.

2. Menerima kritik & saran dari orang lain.

3. Mengerjakan task tepat waktu.

Strategi S-O 

1. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan sesuai deadline (S1, O3).

2. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar etika (S1, S3, S4, O3)

3. Merumuskan strategi bersa-ma tim untuk mencapai visi dan misi perusahaan (S2, O1, O2)

Strategi W-O 

1. Memberi kesempatan orang lain untuk mengemukakan pendapatnya, jika terjadi perbedaan pendapat (W2, O1, O2).

2. Berpikir secara kritis dalam menerima saran dan masukan yang berkenaan dengan operasi perusahaan. (W1, W2, O1, O2).

3. Tidak terlalu banyak mela-kukan pertimbangan dalam menyelesaikan pekerjaan (W1, O3).

Threats (T) 

1. Pesaing yang mu-dah beradaptasi terhadap lingkungan baru.

2. Perusahaan de-ngan pressure yang tinggi.

Strategi S-T

1. Memotivasi diri dengan reward yang akan diberi oleh perusahaan terhadap hasil kerja (S1, S4, T2).

2. Banyak berinteraksi dan bertukar pikiran dengan orang lain dalam merumuskan suatu strategi perusahaan (S2, T1).

Strategi W-T 

1. Berinteraksi dengan orang lain, khususnya dalam satu divisi, mulai dari hal ringan sampai berat (W2, T1).

2. Melakukan segala sesuatu secara baik, hati-hati, dan teliti (W1, T2).







Nama : Gheatama Ramadhani
NPM : 022118283
Kelas : 6A/Akuntansi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar