1. Activity Based Management pada sebuah perusahaan sebelum dan setelah pandemi COVID-19 di sekitar tempat tinggal.
- Jenis Usaha: Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) “AHANK TOPPOKI Ciomas”.
- Alamat: Jl. Raya Ciomas (Seberang Alfamidi), Ciomas Rahayu, Ciomas, Bogor.
- Activity Based Management sebelum COVID-19:
- Pelanggan: Pelanggan usaha ini sebelumnya hanya masyarakat yang sering mendatangi kedai saja.
- Produk/Jasa: Penjual sebelumnya menjual mi ayam dan bakso.
- Aktivitas: Penjual hanya melakukan pelayanan secara offline atau masyarakat yang mendatangi kedai saja.
- Sumber Daya: Penjual hanya mempromosikan usahanya di sekitar daerah tempat usahanya saja, sehingga cakupan pelanggan sedikit.
- Activity Based Management sesudah COVID-19:
- Pelanggan: Pelanggan usaha ini adalah masyarakat yang mengunjungi kedai secara offline dan masyarakat yang memesan secara online.
- Produk/Jasa: Penjual saat ini beralih usaha dengan menjual makanan khas korea, seperti tteokpokki, ramyeon, dan odeng. Penjual beralih usaha ke makanan khas Korea, karena makanan Korea sedang banyak diminati oleh kalangan remaja dan dewasa saat ini, khususnya di daerah sekitar tempat usaha.
- Aktivitas: Penjual melakukan pelayanan secara offline dan online. Offline dengan masyarakat yang mendatangi kedai secara langsung, online dengan masyarakat yang memesan online via aplikasi pengantar makanan dan minuman.
- Sumber Daya: Penjual saat ini bekerja sama dengan platform makanan dan minuman online untuk mempromosikan usahanya, sehingga cakupan pelanggan menjadi luas, tidak hanya secara offline saja.
2. Tahap Proses Penyusunan Program pada Program yang akan Dibuat:
· Penjabaran Inisiatif Strategik ke Dalam Program
Nama program yang akan saya buat adalah MIU FEST (Millenial Universe Festival). Program ini memiliki inisiatif strategik memperkenalkan aneka ragam budaya Indonesia kepada masyarakat, dengan dikemas secara millennial. Sasaran customer dari program ini adalah dewasa, remaja, dan anak-anak. Diharapkan dengan adanya program ini, masyarakat khususnya kaum millennial dapat mengenal berbagai macam budaya Indonesia, seperti lagu daerah, tarian tradisional, atau alat musik tradisional dan ikut serta dalam memperkenalkan budaya Indonesia ke kancah Internasional. Program ini dikemas se-millenial mungkin, sehingga terlihat fresh, tetapi tidak menghilangkan ciri khas dari budaya Indonesia itu sendiri. Program ini nantinya akan melibatkan penyanyi, dancer, dan musisi yang memiliki millennial vibes untuk mendukung jalannya acara. Selama ini, banyak dari masyarakat Indonesia memandang sebelah mata tentang budaya dan cenderung beranggapan bahwa belajar budaya itu membosankan. Lewat program ini, budaya Indonesia akan dikemas secara millennial dan fresh, sehingga para penonton tidak akan bosan dan semakin penasaran dengan budaya-budaya yang ditampilkan. Gambaran kegiatan yang akan dilaksanakan di program ini adalah aransemen lagu-lagu tradisional dengan millennial vibes dan drama musikal yang dipadukan dengan tari tradisional dan diiringi oleh alat musik tradisional. Program ini membawa banyak manfaat yang positif kepada seluruh masyarakat. Selain itu, masyarakat dapat mengenal dan belajar lebih dalam lagi mengenai budaya Indonesia, bahkan dengan kreativitas yang tinggi dapat membawa budaya Indonesia ke panggung internasional dan mengharumkan nama bangsa.
· Penyusunan
Informasi Keuangan Proyeksian
Proyeksi
keuangan yang dibutuhkan dalam program ini kurang lebih sekitar Rp. 68.000.000
Dengan rincian: sewa tempat dan tata panggung sekitar Rp. 9.000.000; pengisi
acara sekitar Rp. 25.000.000; sewa alat musik tradisional sekitar Rp. 4.000.000;
konsumsi sekitar Rp. 18.000.000; dan biaya untuk staf sekitar Rp. 12.000.000. Program
ini membuka ticketing secara online (Presale 1 dan Presale 2) dan offline
(on the spot) dengan rincian: Presale 1 seharga Rp. 120.000, Presale 2 seharga Rp. 150.000, dan On the Spot seharga Rp. 200.000, dengan kapasitas pembeli sekitar
300-500 orang.
· Review dan
Persetujuan Program
Seluruh
crew akan meninjau ulang proyeksi
keuangan dan rencana program, apakah terdapat kelebihan biaya, kekurangan
biaya, atau ketidakselarasan antara keuangan dengan program. Jika tidak
terdapat masalah, maka program akan disetujui dan ditindaklanjuti.
3. Contoh Cascading Program di Lingkungan Pemerintah:
Sasaran: Meningkatnya nilai tambah hasil dan daya saing produk pertanian (tanaman, pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan).
Indikator Kinerja: Pertumbuhan sub-sektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB.
SKPD : Dinas Pertanian
- Sasaran : Meningkatnya produksi pertanian
- Indikator Kinerja : Jumlah Produksi Padi
Indeks
Pertanaman Padi
- Program : Peningkatan produksi pertanian
Pengembangan agribisnis
Bidang Produksi Hortikultura
- Sasaran : Peningkatan penerapan teknologi budidaya yang baik dan ramah lingkungan
- Indikator Kinerja : Luas kebun/lahan usaha yang teregistrasi GAP
Jumlah kelompok tani yang mengikuti SLGAP
Sie. Buah-Buahan
- Sasaran : Peningkatan produksi buah-buahan
- Indikator Kinerja : Luas lahan kawasan tanaman buah-buahan
Jumlah petani yang mendapat pelatihan GAP
Jabatan Pelaksana Analis
Produksi Hortikultura
- Sasaran : Tersedianya data hasil analisa produk
hortikultura
- Indikator Kinerja : Jumlah data analisa produk hortikultura
- Perspektif Pelanggan: Menyediakan semua jenis kebutuhan masyarakat, seperti kebutuhan primer, sekunder, atau tersier; Memberikan kemudahan bertransaksi bagi pelanggan secara online, sehingga pelanggan dapat memesan kapan saja dan di mana saja; Memberikan discount dan free shipping setiap bulan pada tanggal-tanggal tertentu; Menyediakan fitur ‘ajukan pengembalian’, jika pesanan tidak sesuai.
- Perspektif Finansial: Menarik investor, baik perorangan maupun perusahaan, untuk berinvestasi; Mendaftarkan saham dan memperdagangkannya di BEI dalam sektor perusahaan manufaktur.
- Perspektif Bisnis Internal: Menyediakan berbagai macam produk yang sejenis; Menyediakan metode pembayaran secara online, seperti transfer lewat bank atau membayar di minimarket terdekat dan offline, seperti bayar ketika pesanan sudah sampai (cash on delivery).
- Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan: Staf customer service selalu stand-by untuk menerima keluhan, kritik, dan saran dari pelanggan; Merekrut SDM yang profesional; Bekerja sama dengan perusahaan/wirausaha dalam berbagai jenis sektor.
|
|
Strengths (S) 1. Disiplin. 2. Dapat bekerja sama dengan tim. 3. Mampu mengoperasikan Microsoft Office. 4. Teliti dan rapi dalam mengerjakan sesuatu. |
Weaknesses (W) 1. Perfeksionis yang condong ke kritis. 2. Membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap
lingkungan baru. |
|
Opportunities (O) 1. Berpikiran terbu-ka. 2. Menerima kritik & saran dari orang lain. 3. Mengerjakan task
tepat waktu. |
Strategi S-O 1. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dan sesuai deadline (S1, O3). 2. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar
etika (S1, S3, S4, O3) 3. Merumuskan strategi bersa-ma tim untuk mencapai
visi dan misi perusahaan (S2, O1, O2) |
Strategi W-O 1. Memberi kesempatan orang lain untuk
mengemukakan pendapatnya, jika terjadi perbedaan pendapat (W2, O1, O2). 2. Berpikir secara kritis dalam menerima saran dan
masukan yang berkenaan dengan operasi perusahaan. (W1, W2, O1, O2). 3. Tidak terlalu banyak mela-kukan pertimbangan
dalam menyelesaikan pekerjaan (W1, O3). |
|
Threats (T) 1. Pesaing yang mu-dah beradaptasi terhadap
lingkungan baru. 2. Perusahaan de-ngan pressure yang tinggi. |
Strategi S-T 1. Memotivasi diri dengan reward yang akan diberi oleh perusahaan terhadap hasil kerja (S1,
S4, T2). 2. Banyak berinteraksi dan bertukar pikiran dengan
orang lain dalam merumuskan suatu strategi perusahaan (S2, T1). |
Strategi W-T 1. Berinteraksi dengan orang lain, khususnya dalam
satu divisi, mulai dari hal ringan sampai berat (W2, T1). 2. Melakukan segala sesuatu secara baik,
hati-hati, dan teliti (W1, T2). |